CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Saturday, February 20, 2010

Kullu Ma Qaddarallahhu Khair =)

Bismillahhir Rahmaannir Raheem

Ibnu Taimiyyah bercerita tentang seorang menteri yang selalu menjawab ‘baik’ setiap kali ditanya pendapatnya tentang sesuatu. Suatu hari menteri ini menghadiri acara makan malam bersama Raja. Ketika sedang memotong buah, Raja dengan tidak sengaja telah mencederakan jari telunjuknya sendiri. Pisau yang dia gunakan untuk memotong buah telah menyebabkan jari telunjuknya terpotong dan merasa kesakitan. Raja pun bertanya bertanya kepada menteri yang duduk di sebelahnya tentang kejadian yang baru saja dialaminya.

“Baik wahai Raja,” jawab menteri itu tanpa keraguan.

“Apa? Kamu katakan ini baik?” Raja terperanjat dengan jawapan itu.

“Ya wahai Raja. Itu baik.”

Raja sangat marah dengan jawapan itu. Mana mungkin jarinya yang luka parah seperti itu dianggap menterinya sebagai hal yang baik? Maka dia pun memerintahkan menteri itu ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Kemudian Raja mengunjungi menterinya di penjara dan bertanya padanya, “Sekarang, apa pendapatmu tentang keadaanmu sendiri, masih mahu berada di dalam penjara seperti ini?”

“Baik wahai Raja,” jawab menteri itu tanpa ragu-ragu.

Mendengar jawapan itu, Raja menjadi semakin marah dan segera meninggalkan menterinya sendirian di dalam penjara. Dia merasa menterinya itu sangat bodoh dan keterlaluan dalam memberikan pendapat. Beberapa hari kemudian, Raja pergi berburu di dalam hutan dan ditemani menterinya yang lain kerana menteri yang biasa menemaninya telah dipenjarakan. Mereka pun berangkat dengan kuda menuju ke hutan. Oleh kerana menteri yang baru tidak biasa dengan cara Raja menunggang kuda, akhirya dia tertinggal jauh di belakang. Mereka terpisah dan Raja sendiri akhirnya sesat di dalam hutan. Bukan hanya tersesat, Raja juga ditangkap oleh sekumpulan penyembah berhala yang tinggal di dalam hutan tersebut.

Raja tersebut ditahan oleh para penyembah berhala dan mereka menetapkan Raja sebagai korban untuk berhala mereka. Mereka melakukan upacara selama tujuh hari dan pada hari ketujuh mereka membawa Raja ke tempat persembahan. Saat Raja sudah siap untuk dikorbankan, mereka melihat jari telunjuk raja terpotong, lalu mereka ragu untuk mengorbankan Raja.

“Kita hanya mempersembahkan yang terbaik dan sempurna pada berhala kita,” kata ketua suku yang memimpin upacara tersebut. “Orang ini jari telunjuknya terpotong, jadi dia tidak layak menjadi korban”.

Dengan itu, mereka melepaskan Raja tersebut dan beliau kembali ke kerajaannya dengan perasaan yang gembira. Selang beberapa hari peristiwa itu, Raja teringat akan kata-kata menterinya yang telah membuatnya marah ketika jarinya terpotong.

Dia segera ke penjara dan berkata kepada menteri itu, “Apa yang kamu katakan waktu jari saya terpotong memang betul. Itu memang hal yang baik."

Lalu dia pun menceritakan apa yang dialaminya hingga dia akhirnya selamat dari ancaman kematian. Menteri itu berkata, “Saya berada di dalam penjara ini juga baik kerana jika saya pergi dengan Raja pada hari itu, saya juga pasti turut tertangkap. Tentu saya akan dijadikan korban kerana anggota tubuh saya lengkap dan tidak ada yang cacat."

Maka Ibnu Taimiyyah menutup cerita ini dengan mengatakan, “Semua yang ditetapkan oleh Allah adalah baik."

Ref: Syed Alwi Alatas, "Bila Allah menduga kita."

Tuesday, February 2, 2010

Don't turn us in, though!

I'm not sure if you remember what a red-message on top of an entry means, but in case you don't, it means..... THIS ENTRY IS A RANDOM ONE!!! Hahaha.

Salam

Hot story guyss!! Rumah kami panas balik, yeayee!! Alhamdulillah. The heater was shut-off during the weekend, and when we came back in the wee hours that marks the first day of February, The House's (cheaah!) atmosphere was so gelid we had to on our portable heater to make comfy. Or stay curled up in our own duvet (it helped!). And to think that, we actually stand the cold last year... brrgghh! How on earth did we managed to do that huh? It's a wonder, really.

The culprits for the awful experience? Well, I'll let the picture deliver it to you :P



LOL. Sebenarnya kan show off the picture saja. Haha. Cool, no? This is one of our ole-ole from Londres (as Miss J called it). Oh, and plus, we saw Random gums. The real one. Finally. Haha. Excited ku berabis. Told one of the culprits about it, she got excited as well. Pokoknya, kami iski lah ah liat the Random gums.

Jaga Diri, Jaga Imaan.

Monday, February 1, 2010

Not-so-much-of-a-fairytale!

Once upon a time, a group of girls decided to be away from their home. Thus, they planned a trip. Of the many occasions during their trip, one was very much fresh in their minds.

The girls crafted their way through the throng; glancing sides to sides, sighing wonder at the sight they feasted upon. It was their maiden trip to the huge mall. For some anyway.

They've been there for nearly an hour, but nothing catches their eyes really. Turning about a corner upon visiting a shoe shop, a booth was strategically set up to attract the eyes of unwary shoppers as the rounded the corner. Such was the advertising skill, cunningly latching their prey. The girls... not an exception. The gadgets displayed made them stopped, arrested in track at the beauty of the technology. The offer made to them caused their hearts to sway towards acceptance. Should I, should I not?

The salespersons, sensing a win-situation, fervently relates to them the features, trying his/her best to persuade them into buying. Hearts fluttered indecisively.

One has made firm in her choice. She has been giving the gadget coveting glances; impatient to have it all for herself, to hold it with her hands knowing it was hers. The other two inclined to follow her; the other two, alas, not so.

In the end?

Let's just say, it was a lucky day for the salespersons when the girls paused at their booth. Now, three delighted hearts are content with their own.

And they all live happily ever after :)