Assalamualaikum warahmatullahhi wabarakatuh
I caught a glimpse of the sky today. It was blue. A real nice shade of blue. In contrast to that, pure whiteness of the clouds too I can see. And only by looking at that, I feel amazed. I am still amazed! I remembered quickly that all those are in favours of Allah, for ‘tis Him who made it so. Masya Allah : )
I lowered my gaze. Beholding my sight is the greenness of lush tree tops. Is it not a wonder to us that, though the sun shining so brightly that its intensity could burn, but the leaves and the grass, despite the dazzling shine, still maintain their life even though its water content could evaporate, leaving them dry and lifeless? Such were the intricate yet absolute arrangement that has been drawn by our Lord… in order that we may live in this world comfortably.
Having said that, I wanted to share this piece of commentary that I stumbled upon. It’s interesting that he/she wrote it in response to the saying:
"A picture speaks a thousand words…”

Ada pepatah mengatakan: “Satu gambar itu dapat mengkompilasikan seribu kata-kata…” Benarkah itu? Aku mengambil maksud pepatah itu sebagai cabaran; jika ia benar… seribu kata itu tidak akan datang dengan begitu mudah. Lalu aku mengambil keputusan untuk mencoba melakarkan suatu gambaran yang sangat klise dengan mengunakan bahasa demi menyahut kebenaran pepatah itu. Izinkan aku mengorak kata-kata terhadap pandangan ku ke atas gambar ini. Sekeping gambar yang menunjukkan waktu senja di tepi pantai.
Aku melihat persisiran pantai yang bermandikan warna langit. Indahnya pemandangan yang mencuri penglihatan ku. Dapat aku bayangkan… bunyi angin yang menderu, menyebabkan ketenangan laut berkocak, lalu ombak tercipta. Lantaran itu, air laut terdorong hingga ke persisiran pantai, membasahi pasir-pasir yang kering sebelum kembali semula ke dasar laut. Itulah rutin pasang surutnya air di tepi pantai. Kerana olesan air dipermukaan pasir yang tersusun rapi disebelah laut, menyebabkan refleksi warna langit terjadi… mencipta suatu visual yang memukau.
Aku melihat warna kuning, jingga, ungu... warna awan saling bertukar ganti dengan setiap kadar yang bergerak dengan aksi turunnya bebola jingga yang seawalnya terang menghias siang. Bebola matahari. Turunnya di waktu senja, menurut titah Tuhannya, bagi memberi ruang kepada malam untuk melabuhkan tirainya, agar bulan bisa menyinar, agar bintang bisa memagari bentangan langit yang luas. Namun warna langit tetap dengan birunya yang mendamaikan. Sebentar cuma sebelum bertukar menjadi pekatnya hitam… menandakan tibanya malam. Waktu yang diperintahkan untuk datang setiap hari bagi memberi kesempatan kepada manusia untuk melempiaskan lelah, bagi merehatkan otot-otot yang bekerja keras disiang hari. Ah, alangkah indahnya percaturan alam yang dimainkan oleh Sang Pencipta.
Lantas aku teringat kepada sepotong dzikir harian, yang mengulas tentang pertukarannya siang kepada malam. Ianya suatu aksi menunjukkan kekuasaan Sang Khaliq, bagi mengingati umat manusia yang kian lalai dibuai dunia:
“Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukkan siang kedalam malam.” (Ali Imran)
Indahnya kata-kata Allah... tiada yang bisa mengalahkannya. Walau dengan sepotong ayat sekalipun, aku terpegun namun tiada kata dapat ku lakarkan bagi mendefininasikan perasaan ku. Rasa itu lahir dari batin, tidak terungkapkan secara zahirnya. Mungkin kerana itu lah juga pepatah itu wujud.
Aku pikir aku bisa menulis seribu patah perkataan. Namun, kerana wujudnya batasan bahasa yang sedikit cuma aku ketahui bagi mengambarkannya... aku gagal. Lalu aku akur bahawa sememangnya... “Satu gambar itu lebih banyak berkata…” Andaian ku salah dan pepatah itu benar.
A. Mohamad - (Jumlah kata: 383)
_____
So, can you write a thousand words worth trying to describe a picture? It isn’t easy I tell you (because I’ve tried and failed too! :S But it’s worth the effort) and I think so should you :D
0 comments:
Post a Comment